Category Archives: Tazkirah

No days without it:)

 

Surat Thoha ayat 8 : merupakan berita tentang adanya Al Asmaul Husna.

“Dialah Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia. Dia mempunyai Al Asmaul Husna (Nama-nama yang bagus).

 

 

 

Surat Hasyr ayat 24 : berita bahwa apa saja yang di langit dan di bumi membaca tasbih

“Dialah Allah yang menciptakan, yang mengadakan, yang membentuk rupa, yang mempunyai Nama-Nama yang paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi”

 

 

Surat Al Isro’ ayat 110 : penjelasan kepada manusia bahwa bila berdoa, Allah SWT mempunyai Al Asmaul Husna.

“Katakanlah : Serulah Allah atau serulah Ar Rokhman dengan nama yang mana saja kamu seru. Dia mempunyai Al Asmaul Husna.”

 

Surat Al A’rof ayat 180 : Perintah untuk membaca Al Asmaul Husna

Hanya milik Allah Asmaul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan “.

 

 

 

 

Rujukan: http://st305834.sitekno.com/article/46426/dalil-al-asmaul-husna-menurut-al-quran.html

5 tools to face life

[(disalin dari) Rujukan: (Buku) Merindukan Jalan Dakwah oleh Umar Hidayat.]

———————————

Merindukan jalan dakwah menumbuhkan kreativitas dan kiat menghadapi masalah dalam kehidupan. Setidaknya ada 5 hal yang perlu dilakukan:

  1. Kita harus siap
  2. Kita harus ridha
  3. Kita jangan mempersulit diri
  4. Kita harus mengevaluasi diri
  5. Kita harus menjadikan hanya Allah-lah satu-satunya penolong

 

 

 

Kita harus siap:

Dalam hidup ini kita harus selalu siap menerima kenyataan, baik yang sesuai dengan harapan kita atau tidak. Dalam kehidupan ini, kita memang diharuskan untuk memiliki harapan, cita2, rencana yang benar dan wajar. Bahkan, kita sangat dianjurkan untuk gigih berikhtiar mencapai apa pun yang terbaik bagi dunia dan akhirat, semaksimal kemampuan yang Allah berikan kepada kita.

Namun bersamaan dgn itu, kita pun harus sadar bahawa kita hanyalah makhluk yang memiliki banyak keterbatasan utk mengetahui segala hal yg tidak terjangkau oleh daya nalar dan kemampuan kita. Ketahuilah kita punya rencana, Allah pun punya rencana, dan yang pasti terjadi adalah apa yg menjadi rencana Allah.

 

Kita harus ridha:

Setelah siap menghadapi berbagai kenyataan yg terjadi, baik yg sesuai mahupun yg tidak sesuai dgn harapan, maka selanjutnya kita harus ridha dengan kenyataan yg terjadi itu. Mengapa demikian? Kerana walaupun dongkol, uring-uringan, ataupun kecewa berat tetap sahaja kenyataan sudah terjadi. Jadi ridha tidak ridha kejadian tetap sudah terjadi, maka lebih baik kita ridha.

Ridha terhadap sesuatu kejadian bukan bererti pasrah total sehingga tidak bertindak apa pun. Kalau ada yg berpandangan demikian, itu adalah pengertian keliru. Ridha itu hanya amalan hati kita menerima apa yg ada sesuai dgn apa yg Allah berikan. Kondisi hati yg ridha sangat membantu menjadikan proses ikhtiar menjadi positif, optimal dan bermutu.

 

Kita jangan mempersulit diri:

Saudaraku, andaikata mau jujur, sesungguhnya kita ini paling hobi mengarang, mendramatisasi dan mempersulit diri. Sebahagian besar penderitaan kita adalah hasil dramatisasi dan pikiran sendiri. Selain tidak pada tempatnya, juga pasti akn membuat masalah menjadi besar, lebih seram, lebih dahsyat, lebih pahit, lebih gawat, lebih pilu daripada kenyataan aslinya, dan tentu ujungnya akan terasa jauh lebih nelangsa, lebih repot dalam menghadapinya atau menyelesaikannya.

Maka dalam menghadapi persoalan apapun, jgn hanyut dan tenggelam dalam pikiran yg salah. Kita harus tenang menguasai diri, serta renungkanlah janji dan jaminan pertolongan Allah. Bukankah kita sudah sering melalui masa2 yg sangat sulit dan ternyata bisa lolos pada akhirnya, tidak segawat yg kita perkirakan sebelumnya.

 

Kita harus mengevaluasi diri:

Ketahuilah hidup ini bagai gaung di pergunungan. Apa yg kita bunyikan suara itu pulalah yg akan kembali pd kita. Ertinya segala hal yg  terjadi pada kita bisa jadi adalah buah dari apa yg telah kita lakukan, baik disadari mahupun yg tidak disadari.

Allah swt Maha Peka terhadap segala yg kita lakukan. Dengan keadilannya, siapapun yg berbuat kebaikan sekecil apapun dan setersembunyi apa pn, nescaya Allah akan membalas berlipat ganda dengan aneka bentuk yg terbaik menurutNya. Begitu pun sebaliknya, kezaliman sehalus apapun yg kita lakukan yg tampaknya spt menzalimi org lain, padahal sesungguhnya kita sedang menzalimi diri sendiri dan sedang mengundang bencana balasan Allah yg pasti lebih getir dan lebih gawat, naudzubillah.

 

Kita harus menjadikn hanya Allah-lah satu2nya penolong:

Andaikata kita sadar dan meyakini bahawa bekal kita sangat kokoh untuk mengarungi hidup ini, maka kita tidak gentar menghadapi persoalan apa pun. Kerana sesungguhnya yg paling mengetahui struktur masalah kita adalah Allah swt, berikut segala jalan keluar terbaik menurut pengetahuanNya yg Maha Sempurna.

Dan Allah berjanji akan menuntun memberi jalan keluar dari segala masalah, sepelik dan seberat apapun kerana bg Allah tiada yg rumit dan pelik kerana semuanya serba mudah dalam genggaman kekuasaanNya.

Jadi apa yg harus ditakutkn?Jangan takut menghadapi masalah, tp takotlah tidak mendapat pertolongan Allah dalam menghadapinya. Tanpa pertolongnNya, kita akan terus berkelana dalam kesusahan, persoalan yg berujung pd persoalan baru, tanpa nilai tambah bg dunia akhirat kita, benar2 kerugian yg nyata.

Rasulullah saw bersabda: ‘Sekiranya kalian benar2 bertawakal kpd Allah dgn tawakal yg sebenar2nya, sungguh kalian akan diberi rezeki , sebagaimana seekor burung diberi rezeki; ia pergi di pg hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.’ (HR Ahmad, Turmidzi dan Ibn Majah)

 

————————

Sebaik-baik hari di dunia

(disalin dari) Rujukan: http://www.zaharuddin.net

Bulan Zulhijjah, khususnya sepuluh hari awalnya adalah merupakan peluang kedua selepas Ramadhan untuk umat Islam mendapatkan gandaan keredhaan, keampunan dan pahala amalan.

Disebutkan oleh Nabi SAW :
“Sebaik-baik hari di dunia adalah sepuluh hari itu” (Riwayat al-Bazzar ; Albani : Sohih).

Allah SWT pula berfirman :
“Demi Fajar dan hari-hari yang sepuluh” ( Al-Fajr : 1).
Majoriti ulama menyatakan hari sepuluh itu merujuk kepada hari pertama hingga sepuluh Zulhijjah dan bukannya sepuluh terakhir Ramadhan. (Zad Al-Ma’ad, Ibn Qayyim).

Ia juga disebut oleh Nabi SAW dalam hadith lain :
“Tiada hari-hari yang lebih disukai oleh Allah SWT untuk hambanya memperbanyakkan amalan dari sepuluh hari ini” (Riwayat Al-Bukhari).

 

AMALAN-AMALAN UTAMA
Manakala amalan-amalan yang digalakkan sepanjang sepuluh awal Zulhijjah yang amat besar pahalanya ini antaranya:-

a)Zikir: Iaitu dengan memperbanyakkan zikir Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha Illa Allah dan Allahu Akbar.
Ia bersumber dari hadith riwayat At-Tabrani yang diakui sohih oleh Imam Al-Munziri. Allah SWT juga menyebut ertinya : “Supaya mereka menyaksikan berbagai perkara yang mendatangkan faedah kepada mereka serta memperingati dan menyebut nama Allah, pada hari-hari yang tertentu..” (Al-Hajj : 28).
Ibn Abbas r.a mentafsirkan erti ‘hari-hari tertentu’ adalah sepuluh hari Zulhijjah ini dan inilah pendapat majoriti ulama jua.

b)Berpuasa: Amat digalakkan berpuasa pada satu hingga sembilan Zulhijjah bagi orang yang tidak menunaikan Haji. Hari Arafah (9 Zulhijjah ) pula adalah hari yang terbaik untuk berpuasa.
Nabi SAW bersabda tentang kelebihan hari Arafah :
“Tiada hari yang lebih banyak Allah membebaskan hambanya lebih dari hari Arafah” (Riwayat Muslim).
Nabi SAW juga bila ditanya tentang kelebihan berpuasa pada hari Arafah ini menjawab, ia menghapuskan dosa yang lalu dan tahun kemudiannya.

c)Melakukan lain-lain amalan seperti bersedeqah, membaca Al-Quran, solat sunat dan lain-lain. Ia semuanya termasuk di dalam umum hadith yang menunjukkan ianya amat disukai oleh Allah SWT.

d)Menjauhi maksiat dan masa terbaik untuk memulakan tawbat bagi sesiapa yang masih berfikir-fikir dan menangguhnya. Amat biadap jika umat Islam bersukaria dengan melampaui batas haram di hari yang amat agung di sisi Allah SWT ini.
Bertawbatlah dengan sebenar-benar tawbat dan sedarilah bahawa hidup ini sementara dan seluruh keseronokannya adalah tipu daya semata-mata.

e)Bertakbir: Ibn Abi Shaibah menyebut bahawa `Ali KW menunjukkan bahawa permulaan takbir bermula sejurus selepas solat Subuh hari Arafah sehingga hujung waktu ‘Asar hari ketiga Tashriq.

f) Berkorban: Allah SWT berfirman : ertinya : “dan berdoalah dan berkorban”. Allah SWT juga menyebut :

Ertinya : “Sesiapa yang membesarkan syiar Allah (berkorban) malah ia adalah dari tanda ketaqwaan hati” (Al-Hajj : 32)
Sebuah hadis menyebut :

Ertinya : “Tiadalah amalan anak Adam yang lebih disukai oleh Allah SWT pada hari kurban kecuali berkorban ( dengan menyembelih binatang)” ( Riwayat At-Tirmidzi, Abu Daud ; Gharib, namun terdapat rawi yang dipertikaikan )

 

‘Pandang belakang’ untuk ‘Pelangi’?

Bismillahirrahmanirrahim..

 

Pengajaran hari ini

Tentang ‘pelangi’

Sesungguhnya ini bukan puisi

Hanyalah rantaian kata-kata

Untuk perasaan ini

 

Takdir Allah

Telah tertulis sebelum kita lahir ke dunia

Takdir Allah itu

Lebih diingati hanya bila mana ia menyebabkan ‘Hujan’

Jika takdir itu sentiasa cerah ia jarang dibincangkan

Paling tidak pun sekejap

Benarkah?

Ini hanya pandanganku yang kerdil

 

 

Bila ‘Hujan’

Kesan ‘banjir’ sangat hebat

Seolah-olah dunia akan kiamat

Seolah-olah tiada lagi ESOK

Tika itu … ‘Pelangi’ tidak kelihatan di mata hati itu

Walaupun ia sentiasa di situ

Terlindung oleh awankah??

 

 

Manusia selalu ‘buta’

Sering ‘buta’ …sentiasa ‘buta’

Hanya nampak apa yang ia mahu

Hanya nampak apa yang ia impikan

Yang ia rasa itulah untuknya

Ia lupa pengetahuannya hanya takat itu

Lalu ‘buta’ terhadap hubungan antara peristiwa

Tak nampak ‘pelangi’ itu

 

Sedangkan Allah sentiasa memberi ‘pelangi’

dalam setiap ‘hujan’ itu

Tapi ia ‘buta’!!

 

Wahai hati..

Yakinlah..setiap ‘hujan’ itu ada ‘pelangi’

Tidak perlu tunggu untuk ‘pandang belakang’ untuk cari ‘pelangi’ ..

Yakinlah sentiasa..

Allah itu Maha Mengetahui, Maha Pemurah …

 

 

Walaupun sukar untuk menempuh ‘hujan’ itu

Kerana tak nampak ‘pelangi’ itu

Namun, teruslah bersabar keranaNya

Yakin padaNya

PELANGI ITU SENTIASA ADA

CUMA KITA YG TAK NAMPAK!!

 

🙂

wallahu a’lam..

yang sedang belajar untuk bersabar walaupun hikmah ujian itu belum Allah perlihatkan..

 

 

 

 

 

 

 

Ketenangan tidak datang bergolek

Bismillahirrahmanirrahim…

 

Alhamdulillah terima kasih Allah…sekali lagi Engkau mentarbiyahku tentang kehidupan..

Astaghfirullah..ya Allah..ampunkanlah segala dosa2 ku..

 

 

Ketenangan itu rupanya tidak datang bergolek..

Malah perlu dicari dan diusahakan…

Lalu di manakah ketenangan itu?? Bagaimana memperolehnya??

 

Menurut murabbiku, cara mencari ketenangan jiwa adalah melalui 5 M:

1) Mu ‘ahadah : sentiasa memperbaharui dan mengingatkan diri kita tentang janji kita dengan Allah…setiap kali solat kita akan membacakan ayat ini ‘kepada Engkau kami sembah, dan kepada Engkau kami memohon pertolongan’.. dengan cara ini kita akan sentiasa ingat bahawa kita mempunyai Allah yang kita sudah berjanji padaNya bahawa kita akan sentiasa meminta kepadaNya…

 

2) Muraqabah: iaitu sentiasa merasakan bahawa Allah sentiasa bersama dengan kita ketika susah mahupun senang..bersangka baiklah terhadap Allah…bahawa setiap yang Dia aturkan adalah yang terbaik buat kita..

 

3) Muhasabah: iaitu sentiasa merefleksi diri dan menghitung diri…kemudian bertindak memperbaiki diri..

 

4) Mu ‘aqabah: iaitu memberi ‘reward’ apabila kita berjaya mencapai sesuatu atau ‘punishment’ sekiranya kita melakukan sesuatu kesalahan..supaya kita sentiasa istiqamah memperbaiki diri..

 

5) Mujahadah: berusaha bersungguh-sungguh! dengan penuh disiplin diri untuk melaksanakan 4 perkara di atas..

 

Dan tentunya, jangan putus-putus berdoa padaNya!…

 

 

Jadi, setiap kali kita diuji olehNya, mana satu pilihan kita? Adakah kita ingin menjadi seperti BESI (yang semakin mencair apabila semakin panas i.e semakin lemah apabila ujian semakin kuat), atau seperti KAYU yang rapuh (yang patah apabila diketuk kuat i.e tak tahan ujian langsung) atau seperti bola PING-PONG (yang semakin tinggi lantunannya apabila semakin kuat pukulan ke atasnya i.e semakin kuat dengan bertambah beratnya ujian)…

 

Ya Allah…aku ingin jadi lebih kuat dari bola PING-PONG itu ya Allah…Allahumma yassir..

Wallahu a’lam…

 

 

SAYANGkah kita?

Alhamdulillah syukur pada Allah, hari ini Allah kurniakan perasaan yang jauh dari kesedihan. Walau pun diri ini tahu bahawa diri ini tidak layak langsung untuk memperoleh nikmat ini..namun, Alhamdulillah…

kata Allah, ‘La in syakartum la azidanna kum’ sekiranya kamu bersyukur, nescaya akan Aku tambahkan untuk kamu (nikmat-nikmat)..

Alhamdulillah di atas nikmat KEHIDUPAN..

Alhamdulillah di atas nikmat ISLAM..

Alhamdulillah di atas nikmat IMAN..

Alhamdulillah di atas nikmat SIHAT..

Alhamdulillah di atas nikmat orang-orang yang TERSAYANG di sekeliling diri ini..

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin….

Hakikatnya, diri ini adalah seorang hamba kepada Allah YANG MAHA PENGASIH (ARRAHMAN) dan MAHA PENYAYANG (ARRAHIM)..

Kata seorang ukhti, cuba kita bayangkan diri kita sebagai seorang hamba kepada seorang tukang besi, sudah tentu kita juga akan membuat besi seperti mana tuan kita. Begitu juga jika kita hamba kepada seorang tukang jahit, sudah tentu kerja-kerja menjahit akan menjadi sebahagian dari kehidupan kita.

Lalu, bagaimana pula peranan kita sebagai hamba kepada YANG MAHA PENGASIH (‘ibaadurrahman)? Sewajarnya hidup kita juga sepatutnya diwarnai sifat-sifat kasih sayang kerana Allah dan sesama manusia..bukankah begitu?

Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda:

Di antara doa Nabi Daud ’alihis-salaam ialah: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu cintaMu dan cinta orang-orang yang mencintaiMu dan aku memohon kepadaMu perbuatan yang dapat mengantarku kepada cintaMu. Ya Allah, jadikanlah cintaMu lebih kucintai daripada diriku dan keluargaku serta air dingin.” Dan bila Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam mengingat Nabi Daud ’alihis-salaam beliau menggelarinya sebaik-baik manusia dalam beribadah kepada Allah.” (HR Tirmidzi 3412)

Lalu bagaimana kita menjadi hamba kepada YANG MAHA PENGASIH? Allah sudah memberikan kita jawapannya:

seperti kata-kata Allah dalam surah al Furqan ayat 63-76;

  • Dan hamba-hamba (Allah) Ar-Rahman (yang diredhaiNya), ialah mereka yang berjalan di bumi dengan sopan santun, dan apabila orang-orang yang berkelakuan kurang adab, hadapkan kata-kata kepada mereka, mereka menjawab dengan perkataan yang selamat dari perkara yang tidak diingini;

 

  • Dan mereka (yang diredhai Allah itu ialah) yang tekun mengerjakan ibadat kepada Tuhan mereka pada malam hari dengan sujud dan berdiri,

     

  • Dan juga mereka yang berdoa dengan berkata: Wahai Tuhan kami, sisihkanlah azab neraka Jahannam dari kami, sesungguhnya azab seksanya itu adalah mengertikan. Sesungguhnya neraka Jahannam itu tempat penetapan dan tempat tinggal yang amat buruk”;

     

  • Dan juga mereka (yang diredhai Allah itu ialah) yang apabila membelanjakan hartanya, tiadalah melampaui batas dan tiada bakhil kedekut; dan (sebaliknya) perbelanjaan mereka adalah betul sederhana di antara kedua-dua cara (boros dan bakhil) itu.

     

  • Dan juga mereka yang tidak menyembah sesuatu yang lain bersama-sama Allah, dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah membunuhnya, kecuali dengan jalan yang hak (yang dibenarkan oleh syarak), dan tidak pula berzina; dan sesiapa melakukan yang demikian, akan mendapat balasan dosanya; Akan digandakan baginya azab seksa pada hari kiamat, dan ia pula akan kekal di dalam azab itu dengan menerima kehinaan, –

     

  • Kecuali orang yang bertaubat dan beriman serta mengerjakan amal yang baik, maka orang-orang itu, Allah akan menggantikan (pada tempat) kejahatan mereka dengan kebaikan; dan adalah Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.

     

  • Dan sesiapa yang bertaubat serta beramal soleh, maka sesungguhnya (dengan itu) ia bertaubat kepada Tuhannya dengan sebenar-benar taubat;

     

  • Dan mereka (yang diredhai Allah itu ialah orang-orang) yang tidak menghadiri tempat-tempat melakukan perkara-perkara yang dilarang, dan apabila mereka bertembung dengan sesuatu yang sia-sia, mereka melaluinya dengan cara membersihkan diri daripadanya.

     

  • Dan juga mereka (yang diredhai Allah itu ialah orang-orang) yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat keterangan Tuhan mereka, tidaklah mereka tunduk mendengarnya secara orang-orang yang pekak dan buta.

     

  • Dan juga mereka (yang diredhai Allah itu ialah orang-orang) yang berdoa dengan berkata: “Wahai Tuhan kami, berilah kami beroleh dari isteri-isteri dan zuriat keturunan kami: perkara-perkara yang menyukakan hati melihatnya, dan jadikanlah kami imam ikutan bagi orang-orang yang (mahu) bertaqwa.

     

  • Mereka itu semuanya akan dibalas dengan mendapat tempat yang tinggi di Syurga disebabkan kesabaran mereka, dan mereka pula akan menerima penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya, Mereka kekal di dalam Syurga itu; amatlah eloknya Syurga menjadi tempat penetapan dan tempat tinggal.

Wa Allahu a’lam

*Refleksi post-PMS (PERHIMPUNAN MUSIM SEJUK 2011)*

Makna buat kehidupan

Tentunya orang yang belum merasainya tidak akan pernah mengetahui bagaimana rasanya. Nikmat berkumpul bersama dalam satu majlis. Nikmat mentadabbur ayat-ayat Allah dan mengingatkan satu sama lain tentang janji Allah yang memang pasti. Nikmat berukhuwah atas nama Islam dan dasarnya akidah tauhid. Nikmat bersama-sama di dalam suatu ikatan usrah.

Begitu besarnya makna usrah untuk diri saya. Setelah beberapa tahun di bumi UK, saya kini boleh katakan seminggu saya memang tidak akan lengkap jika tak berusrah. Bagaikan ada sesuatu yang ‘missing‘ jika tidak bersama akhawat tersayang di dalam majlis ini. Majlis yang bukan sekadar majlis ilmu, tapi pastinya lebih lagi daripada itu. Majlis yang begitu memberi makna ‘kehidupan’ buat diri yang selalu terlupa. Teringatpula  ayat Al Quran di 8:24..

Daripada murabbi-murabbi yang sabar melayan karenah kami, saya temui begitu banyak mutiara darpada mereka. Mereka orang-orang yang lebih lama dalam dakwah ini, yang lebih banyak makan garam, tetapi tidak pernah lokek untuk berkongsi segalanya dengan kami. Mereka mengajar saya betapa tarbiyah itu bukan sekadar teori, bukan sekadar ayat-ayat di mulut, tetapi juga sesuatu yang perlu diterjemahkan dengan amal. Mereka juga menjadi contoh terbaik membina keluarga Muslim dalam erti kata yang sebenar.

Mereka begitu meyakini bahawa dunia ini hanya akan terselamat dengan cahaya Islam sahaja. Maka pemuda-pemuda seperti kitalah perlu membina diri kita untuk mencapai tahap supaya kita mampu sama-sama beramal jamaie membawa Islam ke tempat yang sepatutnya. Mereka memberi saya keyakinan dan dorongan bahawa saya mampu melakukan perkara yang saya sendiri ragui saya mampu lakukannya. Mereka mempercayai potensi diri ini yang tak seberapa dan mendorong saya agar ia digunakan sepenuhnya untuk amal Islami.

Teringat kisah-kisah dahulu bila saban minggu, perjalanan menaiki tren untuk ke tempat usrah sudah menjadi perkara biasa. Malah menjadi perkara yang ditunggu-tunggu kerana dapat bertemu dengan akhawat-akhawat lain daripada lokaliti lain.

Tahun berganti tahun, begitu juga dengan ahli-ahli usrah. Ada ahli usrah yang bersama-sama dari dahulu sehinggalah kini. Ada ahli usrah yang dahulunya bersama kini telah kembali ke tanah air-ada yang sudah berkahwin, ada yang sudah bercahaya mata. Alhamdulillah 🙂

Selalu juga terfikir, bertuahnya diri ini kerana disapa dengan nikmat hidayah Allah ini. Juga nikmat hidup dalam biah solehah dan dipermudahkan untuk mendapat hidayah Allah dalam pelbagai bentuk. Nikmat yang paling hebat dan manis sekali pastinya apabila dapat berkenalan semula dengan Pencipta yang Maha Agung, mengenaliNya melalui ayat-ayat Al-Quran dan menginsafi betapa lemahnya diri ini.

Sedangkan di luar sana betapa ramai rakan seusia masih terkinja-kinja dengan hiburan yang melalaikan, masih sibuk mengejar harta dunia tanpa peduli makanan rohani, masih meraba dalam gelap mencari-cari makna hidup yang sebenar. Di luar sana, pemuda-pemuda bagaikan tiada arah tujuan hidup dan larut dalam nikmat duniawi yang begitu mengasyikkan. (Beradanya saya di Malaysia pada waktu ini mengiyakan fakta di atas.)

Di suatu sudut lain, saya sebenarnya berasa kasihan pada mereka kerana mungkin mereka hanyalah ‘mangsa keadaan’.

Saya juga agaknya begitu jika tidak ada hidayah yang menyapa. Saya juga agaknya begitu jika tiada kawan-kawan, akak-akak yang datang berkongsi tentang nikmat iman dan islam dengan saya suatu hari dahulu. Saya juga agaknya begitu jika tiada akhawat-akhawat yang tidak putus-putus mendoakan kesejahteraan bersama dan tsabatnya kita dalam jalan ini.

Namun tiada satu jaminan bahawa saya akan terus kekal di jalan ini, kerana hanya Allah yang memegang hati ini. Dan hanya padaNya lah saya meminta agar Dia terus memimpin saya ke jalan yang lurus.

“Barang siapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah, Dia akan membukakan dadanya untuk Islam. Dan barang siapa dikehendakiNya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit….” 6:125

Buat para duat,

Teruskan menyentuh hati-hati manusia, membantu mereka (dan diri kita) membuang segala noda hitam dalam hati supaya mudah hidayah Allah itu hinggap ke dalam hati. Kongsilah permata-permata tarbiyah berharga yang telah kita peroleh dan sangat sayangi ini dengan mereka di luar sana. Sebarkan bait-bait hikmah daripada Al Quran untuk dikongsi bersama rakan-rakan. Teruskan mengajak mereka untuk bersama kita dalam usaha fastabiqulkhairat ini.

Kerana sebenarnya, manusia seluruhnya sangat menanti-nantikan cahaya Islam, juga sangat-sangat menanti-nantikan kita. Kerana jauh di sudut hati, mereka juga ingin mengenal kembali Allah, dan mereka juga ingin mengenali Islam itu sendiri. Mereka juga ada impian yang sama dengan kita, iaitu untuk menggapai nikmatnya Syurga Jannatul Firdausi dan menatap wajah Allah yang Esa.

Moga Allah kekalkan kita dalam nikmat iman dan islam ini -walaupun ia berbunyi cliche, tetapi pengertiannya begitu besar bagi yang benar-benar memahami.

Marilah kita berusaha untuk kembali dekat padaNya, taat padaNya dan ikhlas melakukan segala-gala keranaNya.

Dan marilah kita mengajak kawan-kawan di luar sana untuk berada bersama dalam gerabak ini, jangan biar ada seorang yang tercicir, kerana walaupun payah dan sukar perjalanannya, namun syurga dan redha Allah yang menanti itu begitu besar ganjarannya.

 “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa..” 3:133

“Iaitu syurga ‘Adn yang telah dijanjikan oleh Tuhan yang Maha Pengasih kepada hamba-hambaNya sekalipun (syurga itu) tidak tampak. Sungguh, (janji Allah) itu pasti ditepati.” 19: 61

Wallahualam..

Bedah Buku: Fiqh Awlawiyat

Ingin berkongsi sedikit catatan tentang buku yang sedang dibaca , supaya boleh jadi rujukan diri sendiri di masa depan, juga untuk dikongsikan ilmu ini dengan orang lain.

p/s: Jom baca buku!

Bedah buku:

Fiqh Awlawiyat (Yusuf Al-Qardhawi)

Pendahuluan

Dalam kehidupan ada perkara yang lebih perlu diutamakan daripada yang lain. Malah dalam Al-Quran juga, Allah meletakkan darjat dan nilai yang berbeza untuk beberapa perkara yang berbeza.

Dengan  memahaminya, kita tidak akan mengecilkan perkara yang sebenarnya besar, dan tidak terlalu membesarkan perkara yang sebenarnya kecil/remeh.

Dalam Al-Quran banyak telah Allah berikan contohnya:

Apakah orang-orang yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan ibadah haji dan mengurus Masjid al-Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum Muslim yang zalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.”  (at-Taubah, 19-20)

Para sahabat juga sentiasa ingin mengetahui apakah amalan yang paling dicintai oleh Allah, paling tinggi darjatnya yang akan dapat membawa mereka mencapai redha dan syurga Allah. Jadi banyak yang kita dapati jawapan Rasulullah kepada pertanyaan-pertanyaan mereka dimulai dengan , “Amalan yang paling mulia ialah..” atau “Amalan yang paling dicintai Allah ialah..”

Contoh-contoh lain yang menunjukkan keutamaan sesuatu melebihi yang lain, (untuk rujukan boleh lihat buku ini):

“Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian; dengan kelebihan sebanyak dua puluh tujuh tingkatan.”

“Sesungguhnya keikutsertaan salah seorang dari kamu dalam jihad di jalan Allah adalah lebih baik daripada shalat yang dilakukan olehnya di rumahnya selama tujuh puluh tahun.”

Juga terdapat dosa-dosa yang sebahagiannya lebih dibenci daripada yang lain contohnya:

“Satu dirham barang riba yang dimakan oleh seseorang, dan dia mengetabui bahwa itu adalah riba, maka dosa itu lebih berat di sisi Allah SWT daripada tiga puluh enam kali zina.”

“Sesuatu yang paling jelek yang ada di dalam diri seseorang ialah sifat kikir yang amat berat, dan sifat pengecut.”

“Sejelek-jelek umatku ialah mereka yang paling banyak omongnya, bermulut besar, dan berlagak pandai; dan sebaik-baik umatku ialah mereka yang paling baik akhlaknya.”

“Manusia yang dianggap sebagai pencuri paling ulung ialah orang yang mencuri shalatnya, tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya; sedangkan manusia yang paling kikir ialah orang yang paling enggan untuk mengucapkan salam.”

Begitu juga dengan darjat manusia, sebahagian adalah lebih tinggi daripada yang lainnya. Apakah dia yang membezakan darjat manusia itu? Tentunya ketakwaan kepada Allah.

“…Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu…” (al-Hujurat: 13)

Juga orang yang berilmu itu juga lebih tinggi di sisi Allah daripada orang yang tidak berilmu. Jadi jom kita belajar banyak-banyak ilmu, kawan2!

“… Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?…” (az-Zumar: 9)

Orang yang berjihad di jalan Allah juga semestinya tidak sama dengan orang yang duduk dan tidak turut berperang..

“Tidaklah sama antara Mu’min yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar. (Yaitu) beberapa derajat daripada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah SWT Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (an-Nisa: 95-96)

Dan tentunya tidak sama mereka yang dicelikkan hatinya untuk menerima Islam, dengan yang buta hatinya untuk Islam.

“Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat. Dan tidak (pula) sama gelap gulita dengan cahaya. Dan tidak (pula) sama yang teduh dengan yang panas. Dan tidak (pula) sama antara orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati …” (Fathir: 19-22)

Sekian dulu.. wassalam.

 

 

useless??!

pernah rasa useless?

pernah rasa tak diperlukan?

pernah rasa jadi halimunan?

pernah rasa better tak wujud dari wujud?

pernah rasa terkapai kapai?

pernah rasa tak mampu buat sesuatu?

pernah rasa tak mungkin dapat teruskan hidup ini?

sakitnya perasaan ini. itu baru antara manusia. dimata manusia. belum lagi di mata Allah.

owh,tak ingin jadi useless dimata Allah!

very inspiring video!

Anas said that when the Prophet, peace be upon him, was faced with a serious difficulty, he would always supplicate, “Ya Hayyu, ya Qayyumu, bi-rahmatika astaghithu (O the Living, O the Eternal, I seek help in Your grace).
Source: Tirmidhi

Abu Bakrah reported that the Prophet, peace be upon him, said, “The supplications of distress are, ‘Allahumma rahmataka arju, fala takilni ila nafsi tarfata ‘ain, wa aslah li sha’ni kullahu, la ilaha illa anta

(O Allah, I hope for Your mercy, so give me not over to my self even for as little as wink of an eye, and set right all my affairs, there is no god but You).”
Source: Abu Daw’ud

 

Di balik Tirai Malam

Jam menunjukkan pukul 2.25 pagi waktu UK. Ain bangkit dari posisi tidurnya. Ah, baru tersedar, awal benar dia tidur malam tadi. Selepas pulang dari kelas, habis solat dan makan-makan dengan housemates tercinta, terus matanya rasa berat semacam. Mengantuk la maknanya tu.

Ain menggosok-gosok pelupuk matanya. Dah segar sikit sekarang. Pandangannnya melilau memerhatikan seluruh ruang dalam bilik tidurnya. Luas. Cantik. Cukup. Lengkap.

“Alhamdulillah…Astaghfirullah..” Spontan 2 kalimah itu keluar dari bibir mungilnya. Entah kenapa Ain tersentuh melihat keadaan biliknya sendiri. Bukan apa, dia tiba-tiba teringat bilik tidur kawan-kawan yang belajar di Malaysia. Sungguh serba sederhana. Tapi dia yang belajar di UK? Lebih dari cukup.

Bermula dari alat-alat solek, baju-baju, poster-poster seluruh bilik, buku-buku, duvet setebal 15 tog, kasut-kasut dan segalanyalah! Semuanya boleh dikatakan perfect untuk seorang pelajar sepertinya. Terkadang dia terlupa mengucap syukur atas segala yang telah dia  perolehi. Terlupa tak semua orang dapat macam apa yang dia dapat.

Padahal bersyukur itu langsung tak mengurangkan harta, malah Allah berjanji akan menambah lagi nikmat buat sesiapa yang bersyukur.

“…Sesungguhnya jika kamu bersykur niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” QS. Ibrahim : 7.

Allahuakbar…

Ain jadi takut. Takut kalau dia terlalu mempermudah-mudahkan nikmat Allah. Takut kalau dia terhantuk baru terngadah. Takut kalau dia mensia-siakan. (Sedang dia sedar, memang banyak dia buat kerja sia-sia..)

“…Ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.” QS. Al Baqarah : 152.

Perlahan-lahan Ain bangkit dari katilnya. Dia meregangkan tangannya ke depan dan ke belakang. Makin segar. Alhamdulillah!

“Dan barangsiapa yang bersykur kepada Allah, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpui.” QS. Luqman : 12.

Esok ada kelas. Tapi Ain sudah tak dapat melelapkan mata lagi. Kakinya diatur cermat ke tandas. Mahu mengambil wudhuk. Mahu jadi hamba yang tahu bersyukur. Ya,Ain mahu! Cuma terkadang dia tersungkur dan terfutur dengan perkara-perkara yang hadir dalam hidupnya. Dan Ain sedar, futur itu sia-sia. Menghabiskan usia. Mempercepat tua. Dan akhirnya, futur itu jika terlalu lama  bisa membawa mudharat yang fatal!

“Ya Robb-ku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang ibu bapakku, dan untuk mengerjakan amal sholeh yang Engkau ridhoi. Dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang sholeh.” QS. An Naml : 19

Air paip yang sejuk itu membasahi seluruh anggota wudhuknya. Bertambah-tambah segar terasa. Allah-Allah-Allah…Ain mahu bersama Allah. Ain mahu Allah di sisi Ain..Ain mahu Allah yang menjadi mata, hati, telinga, kaki dan tangan Ain…Kuatkan jiwa Ain yang mudah rapuh ya Allah..Kuatkan.Kuatkan…

“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersykur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” QS. An Nisa : 147