Category Archives: Dakwah

5 tools to face life

[(disalin dari) Rujukan: (Buku) Merindukan Jalan Dakwah oleh Umar Hidayat.]

———————————

Merindukan jalan dakwah menumbuhkan kreativitas dan kiat menghadapi masalah dalam kehidupan. Setidaknya ada 5 hal yang perlu dilakukan:

  1. Kita harus siap
  2. Kita harus ridha
  3. Kita jangan mempersulit diri
  4. Kita harus mengevaluasi diri
  5. Kita harus menjadikan hanya Allah-lah satu-satunya penolong

 

 

 

Kita harus siap:

Dalam hidup ini kita harus selalu siap menerima kenyataan, baik yang sesuai dengan harapan kita atau tidak. Dalam kehidupan ini, kita memang diharuskan untuk memiliki harapan, cita2, rencana yang benar dan wajar. Bahkan, kita sangat dianjurkan untuk gigih berikhtiar mencapai apa pun yang terbaik bagi dunia dan akhirat, semaksimal kemampuan yang Allah berikan kepada kita.

Namun bersamaan dgn itu, kita pun harus sadar bahawa kita hanyalah makhluk yang memiliki banyak keterbatasan utk mengetahui segala hal yg tidak terjangkau oleh daya nalar dan kemampuan kita. Ketahuilah kita punya rencana, Allah pun punya rencana, dan yang pasti terjadi adalah apa yg menjadi rencana Allah.

 

Kita harus ridha:

Setelah siap menghadapi berbagai kenyataan yg terjadi, baik yg sesuai mahupun yg tidak sesuai dgn harapan, maka selanjutnya kita harus ridha dengan kenyataan yg terjadi itu. Mengapa demikian? Kerana walaupun dongkol, uring-uringan, ataupun kecewa berat tetap sahaja kenyataan sudah terjadi. Jadi ridha tidak ridha kejadian tetap sudah terjadi, maka lebih baik kita ridha.

Ridha terhadap sesuatu kejadian bukan bererti pasrah total sehingga tidak bertindak apa pun. Kalau ada yg berpandangan demikian, itu adalah pengertian keliru. Ridha itu hanya amalan hati kita menerima apa yg ada sesuai dgn apa yg Allah berikan. Kondisi hati yg ridha sangat membantu menjadikan proses ikhtiar menjadi positif, optimal dan bermutu.

 

Kita jangan mempersulit diri:

Saudaraku, andaikata mau jujur, sesungguhnya kita ini paling hobi mengarang, mendramatisasi dan mempersulit diri. Sebahagian besar penderitaan kita adalah hasil dramatisasi dan pikiran sendiri. Selain tidak pada tempatnya, juga pasti akn membuat masalah menjadi besar, lebih seram, lebih dahsyat, lebih pahit, lebih gawat, lebih pilu daripada kenyataan aslinya, dan tentu ujungnya akan terasa jauh lebih nelangsa, lebih repot dalam menghadapinya atau menyelesaikannya.

Maka dalam menghadapi persoalan apapun, jgn hanyut dan tenggelam dalam pikiran yg salah. Kita harus tenang menguasai diri, serta renungkanlah janji dan jaminan pertolongan Allah. Bukankah kita sudah sering melalui masa2 yg sangat sulit dan ternyata bisa lolos pada akhirnya, tidak segawat yg kita perkirakan sebelumnya.

 

Kita harus mengevaluasi diri:

Ketahuilah hidup ini bagai gaung di pergunungan. Apa yg kita bunyikan suara itu pulalah yg akan kembali pd kita. Ertinya segala hal yg  terjadi pada kita bisa jadi adalah buah dari apa yg telah kita lakukan, baik disadari mahupun yg tidak disadari.

Allah swt Maha Peka terhadap segala yg kita lakukan. Dengan keadilannya, siapapun yg berbuat kebaikan sekecil apapun dan setersembunyi apa pn, nescaya Allah akan membalas berlipat ganda dengan aneka bentuk yg terbaik menurutNya. Begitu pun sebaliknya, kezaliman sehalus apapun yg kita lakukan yg tampaknya spt menzalimi org lain, padahal sesungguhnya kita sedang menzalimi diri sendiri dan sedang mengundang bencana balasan Allah yg pasti lebih getir dan lebih gawat, naudzubillah.

 

Kita harus menjadikn hanya Allah-lah satu2nya penolong:

Andaikata kita sadar dan meyakini bahawa bekal kita sangat kokoh untuk mengarungi hidup ini, maka kita tidak gentar menghadapi persoalan apa pun. Kerana sesungguhnya yg paling mengetahui struktur masalah kita adalah Allah swt, berikut segala jalan keluar terbaik menurut pengetahuanNya yg Maha Sempurna.

Dan Allah berjanji akan menuntun memberi jalan keluar dari segala masalah, sepelik dan seberat apapun kerana bg Allah tiada yg rumit dan pelik kerana semuanya serba mudah dalam genggaman kekuasaanNya.

Jadi apa yg harus ditakutkn?Jangan takut menghadapi masalah, tp takotlah tidak mendapat pertolongan Allah dalam menghadapinya. Tanpa pertolongnNya, kita akan terus berkelana dalam kesusahan, persoalan yg berujung pd persoalan baru, tanpa nilai tambah bg dunia akhirat kita, benar2 kerugian yg nyata.

Rasulullah saw bersabda: ‘Sekiranya kalian benar2 bertawakal kpd Allah dgn tawakal yg sebenar2nya, sungguh kalian akan diberi rezeki , sebagaimana seekor burung diberi rezeki; ia pergi di pg hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.’ (HR Ahmad, Turmidzi dan Ibn Majah)

 

————————

Advertisements

SAYANGkah kita?

Alhamdulillah syukur pada Allah, hari ini Allah kurniakan perasaan yang jauh dari kesedihan. Walau pun diri ini tahu bahawa diri ini tidak layak langsung untuk memperoleh nikmat ini..namun, Alhamdulillah…

kata Allah, ‘La in syakartum la azidanna kum’ sekiranya kamu bersyukur, nescaya akan Aku tambahkan untuk kamu (nikmat-nikmat)..

Alhamdulillah di atas nikmat KEHIDUPAN..

Alhamdulillah di atas nikmat ISLAM..

Alhamdulillah di atas nikmat IMAN..

Alhamdulillah di atas nikmat SIHAT..

Alhamdulillah di atas nikmat orang-orang yang TERSAYANG di sekeliling diri ini..

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin….

Hakikatnya, diri ini adalah seorang hamba kepada Allah YANG MAHA PENGASIH (ARRAHMAN) dan MAHA PENYAYANG (ARRAHIM)..

Kata seorang ukhti, cuba kita bayangkan diri kita sebagai seorang hamba kepada seorang tukang besi, sudah tentu kita juga akan membuat besi seperti mana tuan kita. Begitu juga jika kita hamba kepada seorang tukang jahit, sudah tentu kerja-kerja menjahit akan menjadi sebahagian dari kehidupan kita.

Lalu, bagaimana pula peranan kita sebagai hamba kepada YANG MAHA PENGASIH (‘ibaadurrahman)? Sewajarnya hidup kita juga sepatutnya diwarnai sifat-sifat kasih sayang kerana Allah dan sesama manusia..bukankah begitu?

Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda:

Di antara doa Nabi Daud ’alihis-salaam ialah: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu cintaMu dan cinta orang-orang yang mencintaiMu dan aku memohon kepadaMu perbuatan yang dapat mengantarku kepada cintaMu. Ya Allah, jadikanlah cintaMu lebih kucintai daripada diriku dan keluargaku serta air dingin.” Dan bila Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam mengingat Nabi Daud ’alihis-salaam beliau menggelarinya sebaik-baik manusia dalam beribadah kepada Allah.” (HR Tirmidzi 3412)

Lalu bagaimana kita menjadi hamba kepada YANG MAHA PENGASIH? Allah sudah memberikan kita jawapannya:

seperti kata-kata Allah dalam surah al Furqan ayat 63-76;

  • Dan hamba-hamba (Allah) Ar-Rahman (yang diredhaiNya), ialah mereka yang berjalan di bumi dengan sopan santun, dan apabila orang-orang yang berkelakuan kurang adab, hadapkan kata-kata kepada mereka, mereka menjawab dengan perkataan yang selamat dari perkara yang tidak diingini;

 

  • Dan mereka (yang diredhai Allah itu ialah) yang tekun mengerjakan ibadat kepada Tuhan mereka pada malam hari dengan sujud dan berdiri,

     

  • Dan juga mereka yang berdoa dengan berkata: Wahai Tuhan kami, sisihkanlah azab neraka Jahannam dari kami, sesungguhnya azab seksanya itu adalah mengertikan. Sesungguhnya neraka Jahannam itu tempat penetapan dan tempat tinggal yang amat buruk”;

     

  • Dan juga mereka (yang diredhai Allah itu ialah) yang apabila membelanjakan hartanya, tiadalah melampaui batas dan tiada bakhil kedekut; dan (sebaliknya) perbelanjaan mereka adalah betul sederhana di antara kedua-dua cara (boros dan bakhil) itu.

     

  • Dan juga mereka yang tidak menyembah sesuatu yang lain bersama-sama Allah, dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah membunuhnya, kecuali dengan jalan yang hak (yang dibenarkan oleh syarak), dan tidak pula berzina; dan sesiapa melakukan yang demikian, akan mendapat balasan dosanya; Akan digandakan baginya azab seksa pada hari kiamat, dan ia pula akan kekal di dalam azab itu dengan menerima kehinaan, –

     

  • Kecuali orang yang bertaubat dan beriman serta mengerjakan amal yang baik, maka orang-orang itu, Allah akan menggantikan (pada tempat) kejahatan mereka dengan kebaikan; dan adalah Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.

     

  • Dan sesiapa yang bertaubat serta beramal soleh, maka sesungguhnya (dengan itu) ia bertaubat kepada Tuhannya dengan sebenar-benar taubat;

     

  • Dan mereka (yang diredhai Allah itu ialah orang-orang) yang tidak menghadiri tempat-tempat melakukan perkara-perkara yang dilarang, dan apabila mereka bertembung dengan sesuatu yang sia-sia, mereka melaluinya dengan cara membersihkan diri daripadanya.

     

  • Dan juga mereka (yang diredhai Allah itu ialah orang-orang) yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat keterangan Tuhan mereka, tidaklah mereka tunduk mendengarnya secara orang-orang yang pekak dan buta.

     

  • Dan juga mereka (yang diredhai Allah itu ialah orang-orang) yang berdoa dengan berkata: “Wahai Tuhan kami, berilah kami beroleh dari isteri-isteri dan zuriat keturunan kami: perkara-perkara yang menyukakan hati melihatnya, dan jadikanlah kami imam ikutan bagi orang-orang yang (mahu) bertaqwa.

     

  • Mereka itu semuanya akan dibalas dengan mendapat tempat yang tinggi di Syurga disebabkan kesabaran mereka, dan mereka pula akan menerima penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya, Mereka kekal di dalam Syurga itu; amatlah eloknya Syurga menjadi tempat penetapan dan tempat tinggal.

Wa Allahu a’lam

*Refleksi post-PMS (PERHIMPUNAN MUSIM SEJUK 2011)*

‘Ramadhan: The Month of Blessings’ Campaign (4)

‘Ramadhan: The Month of Blessings’ Campaign
Brought to you by IKRAM EMSY
–DAY 4–

Common Misconception about Ramadhan

 

The common misconception is that Ramadhan is only about fasting. Then you can ask yourself, what about people who are ill and unable or not strong enough to fast?

 

Look at ourselves when we fast. Do we only abstain from eating? What about talking badly about others? Are we spending our time performing zikrullah? Are we spending time our free time to read the Quran? (this precious guidance from Allah was revealed during Ramadhan after all)

 

Those are questions whom only we can answer to.

 

It’s not too late to learn about the true meaning of Ramadhan. We’re learning, everybody’s learning. And the most challenging part is to perform and practice what we’ve learnt.

 

It’s never too late so get your act together now and let’s make this Ramadhan a better Ramadhan than the previous Ramadhan.

 

 

Video of the day:

 



From the ‘Ramadhan: The month of blessings Campaign’ team
Usrah Fityan (Leicester) of IKRAM EMSY

‘Ramadhan: The Month of Blessings’ Campaign (3)

‘Ramadhan: The Month of Blessings’ Campaign
Brought to you by IKRAM EMSY


–DAY 3–

Diazab kerana berbuka sebelum waktu..

Daripada Abu Umamah al-BahilibahawadiamendengarRasulullah saw bersabda yang bermaksud:
“Ketika aku tidur, dua orang lelaki datang kepadaku, mengangkatkedua-dua belah tanganku dan membawa aku ke sebuah gunung berbatu. Mereka berkata, “Dakilah!”.Aku berkata, “Aku tidak boleh melakukannya.” Mereka berkata, “Kami akan memudahkan untuk kamu mendakinya.”
Maka, aku mendaki sehingga ke atas puncak. Kemudian, aku terdengar suatu suara yang sangat kuat. Aku bertanya, “Suara apakah itu?”Mereka menjawab, “Itu adalah jeritan para penghuni neraka.”
Kemudian aku dibawa pergi dan aku melihat orang digantung pada buku lalinya, mulutnya terkoyak dan mengalir darah. Aku bertanya, “Siapakah mereka itu?”Mereka menjawab, “Mereka ialah orang yang berbuka puasa sebelum masa yang sepatutnya .” (Riwayat Al-Baihaqi)

Jika orang yang berbuka lebih awal menerima hukuman yang keras sedemikian rupa, bagaimana pula jika seseorang itu tidak berpuasa? Anak kecil yang belum mencapai usia baligh masih boleh dimaafkan lagi, tetapi ketegasan perlu ditunjukkan buat mereka yang berstatus mukallaf.

Rujukan: MajalahSolusiEdisiRamadhan, Isu No.34, mukasurat 113

 

 

Video of the day:

 

 

From the ‘Ramadhan: The month of blessings Campaign’ team
Usrah Fityan (Leicester) of IKRAM EMSY

‘Ramadhan: The Month of Blessings’ Campaign (2)

‘Ramadhan: The Month of Blessings’ Campaign
Brought to you by IKRAM EMSY

–DAY 2–

Muhasabah :Tiba-tiba…

Rasulullah saw bersabda yang bermaksud, “Jika bulan Ramadhan tiba, pintu-pintu syurga dibuka, sedangkan pintu-pintu neraka ditutup dan syaitan pun dibelenggu.” (RiwayatBukharidan Muslim)
Mungkin berkat syaitan dirantai, maka ramai manusia berwajah iman.Topeng syaitan ditinggalkan seketika. Apabila mereka berwajahkan iman sepanjang Ramadhan, maka apa yang terjadi adalah ibadah mengejut.
Tiba-tiba ibadah digandakan…
Tiba-tiba bangun qiamullail…
Tiba-tiba tahap kesabaran meningkat…
Tiba-tiba segala yang lagha semua ditinggalkan…


Dan macam-macam lagi…
Okey, tidak mengapa seandainya ibadah sepanjang bulan Ramadhan dilakukan dengan mengejut. Tidak mengapa jika malaikat Raqib sibuk sedikit dan Atid pula tidak disibukkan untuk merekodkan amalan buruk seseorang. Alhamdulillah jika itu yang berlaku sepanjang Ramadhan.
Namun, jangan ulangi kejutan berupa “tiba-tiba” itu seawal hari pertama “graduate” dari madrasah Ramadhan.
Tiba-tiba makan banyak…
Tiba-tiba mendedahkan aurat…
Tiba-tiba terlupa di mana al-Quran…
Tiba-tiba meninggalkan amalan solat-solat sunat yang dikerjakan…
Tiba-tiba memulakan kembali semua agenda lagha…

Apakah semua ini? Adakah ini satu perbuatan membalas dendam? Balas dendam kepada siapa pula ini?
Tidak mengapa jika tiba-tiba mengerjakan ibadah seolah-olah esok sudah tiada. Namun ada sesuatu yang tidak patut jika tiba-tiba “bertanduk” sebaik takbir Syawal bergema. Koreksilah diri. Apa niat utama kita berpuasa sebulan? Adakah kerana sekadar ingin berpuasa dan focus kepada ibadah hanya dalam tempoh sebulan sahaja?  Apakah ibadah sepanjang bulan Ramadhan dapat menebus semua kealpaan kita daripada mengingati Allah selama sebelas bulan berbaki?

Rujukan: MajalahSolusi, Isu no 34, mukasurat 129


Video of the day:

From the ‘Ramadhan: The month of blessings Campaign’ team
Usrah Fityan (Leicester) of IKRAM EMSY

‘Ramadhan: The Month of Blessings’ Campaign

‘Ramadhan: The Month of Blessings’ Campaign

Brought to you by IKRAM EMSY

Starting this month, IKRAM EMSY will begin our monthly online campaign insyaAllah.  As we are in the last few days of Ramadhan, we would like to motivate ourselves and others too to increase our good deeds in this blessed month in the hope of gaining His Redha and Pleasure.

Let’s take some time to read these daily reminders, which will go on for 5 days insyaAllah. Hopefully it will benefit us all so that we can get closer to Allah.

Feel free to share these with family and friends, through emails, via facebook or others. May the act of spreading good words and reminders will be rewarded by Allah.

THE SIGNIFICANCE OF LAYLATUL QADR

(by Anwar Ahmad, ref: http://www.khaleejtimes.com/displayarticle.asp?xfile=data/theuae/2010/September/theuae_September95.xml&section=theuae&col )

Laylat Al Qadr or the Night of Power — when the first verses of the Holy Quran were revealed to Prophet Mohammed (Peace be upon him) — holds a very special significance for Muslims around the world.

Laylat Al Qadr falls on odd days in the last 10 days of the holy month of Ramadan, for example, on the 21st, 23rd, 25th, 27th, or the 29th day of this month. This holiest night, when the faithful are advised to pray throughout, is revered by Muslims around the world as the reward for worship in this night is better than the worship of a thousand months.

This was the night when Quran was revealed to Prophet Mohammad while he was praying to God in Cave Hira, and hence the significance of this night.

According to Hadith, these odd nights must be searched in the last 10 days of Ramadan, albeit no particular night has been fixed so that the yearning for it sees people spending more nights in worshipping Allah.

From this aspect, the importance of ‘Itikaaf’ (seclusion) during the last 10 days of Ramadan is clear and highly rewarding.

The Prophet said: “The person who offered prayers to Allah in the Night of Power with faith and with hope of reward from Allah, all his past sins have been forgiven.” (Hadith: Bukhari)

The importance of Laylat Al Qadr can be realised from the fact that the Holy Quran contains a whole chapter on this night. The blessing of this night is equal to the blessing of thousand nights as angels descend on the earth to shower Allah’s blessings on the faithful.

According to the verses of the Holy Quran, “Verily! We have sent it (this Quran) down in the Night of Decree (Laylat Al Qadr). And what will make you know what the Night of Decree is? The Night of Decree is better than a thousand months. Therein descend the angels and the Rooh (i.e. Gabriel) by Allah’s permission with all Decrees, Peace! until the appearance of dawn.” (Surat Al Qadr: Quran)

Video of the day:

From the ‘Ramadhan: The month of blessings Campaign’ team

Usrah Fityan (Leicester) of IKRAM EMSY

Mengapa berada dijalan dakwah?

insyaAllah kali ni entry ringkas in bullet point. essay panjang2 pun org bosan gak bace.

hari ni nak share part first from buku Beginilah Jalan Dakwah Mengajarkan Kami

tajuk first; Mengapa berada dijalan dakwah?


  • Keperluan
  • Kewajiban
  • Kebersamaan dengan saudara2 lain
  • penghalang turunnya azab
  • sebagai TANDA SYUKUR atas hidayah Allah

rasa keperluan kepada dakwah mengatasi rasa kewajiban terhadap dakwah.

“barangsiapa mengajak kepada petunjuk Allah, dia akan mendapat pahala yang sama seperti jumlah pahala orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikit pun oleh pahala mereka(HR. Muslim)

sesungguhnya Allah, para malaikat, semut yang ada didalam lubangnya, bahkan ikan yang berada dilautan akan berdoa untuk orang yg mengajarkan kebaikkan kepada manusia (HR. Tirmidzi)

dakwah penghalang turunnya azab.

ni leh refer balik kisah kaum Sabat>3kelompok manusia> pengakhiran kelompok tersebut.

surah al a’raf:164-165


Abu bakar mengatakan, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah bersabda; “Sesungguhnya manusia jika mereka melihat kemungkaran dan mereka tidak merubahnya, dikhuatirkan mereka akan diratakanoleh Allah swt dengan azabnya (HR. Ahmad dan Abu Daud)


3kelompok manusia:

  1. penyeru dakwah yang shalih
  2. shalihin tapi tidak menyeru dakwah
  3. mengingkari dakwah

pengakhiran golongan ke 2 tidak disebut. why? 

 

sebab golongan ke dua dikatakan terlampau lemah dan tidak layak untuk dibahas kan dalam ayat2 Allah. takde kepentingan. fuuh.. dan tidak tahu pengakhirannya. nauzubillah.


berada di jalan dakwah sebagai TANDA SYUKUR atas hidayah Allah. Thats it. bersyukurkah kita dengan hidayah yang Allah berikan pada kita. syukur, hanya ungkapan dipinggir bibir atau sebuah pembuktian melalui perbuatan?

Wallahualam.

Al Quran Dusturuna

Bismillahirrahmanirrahim…

“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,” (Al Quran 2:2)

Dari Umar Al Khattab ra bahawa N.Muhammad saw bersabda, “Sesungguhnya Allah mengangkat (martabat) sebahagian orang dan merendah sebahagian lainnya dengan sebab Al Quran.” (Riwayat Muslim)

Dari Usman bin ‘Affan ra telah berkata: Rasulullah saw bersabda, “Sebaik-baik manusia di antara kamu adalah orang yang mempelajari Al Quran dan mengajarkannya.” (Riwayat Bukhari)

Dari Abu Umamah ra dia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Bacalah Al Quran sesungguhnya ia akan datang di hari kiamat menjadi syafaat (penolong) bagi pembacanya.” (Riwayat Muslim)

Dari Ibnu Mas’ud ra bahawasanya N.Muhammad saw bersabda, “Yang paling layak mengimami kamu dalam solat adalah mereka yang paling fasih membaca AlQuran.” (Riwayat Muslim)

Cukuplah dengan dalil-dalil di atas untuk membuatkan seseorang bersemangat dan berlumba-lumba untuk menguasai ilmu Al Quran dan mengamalkannya dalam segenap kehidupan inshaAllah. Mengapa penting untuk kita menguasai ilmu Al Quran? Sepertimana penting untuk kita menguasai bidang-bidang ilmu yang lain untuk kemaslahatan umat manusia, sebagai contoh penguasaan ilmu perubatan penting untuk menyediakan khidmat kesihatan yang baik untuk masyarakat. Ilmu fizik dan astronomi pula misalnya penting untuk membolehkan ramalan-ramalan cuaca dan keadaan alam untuk membantu persediaan menghadapi bencana alam misalnya.

Bagaimana pula dengan Al Quran? Bukankah ia sumber segala ilmu-ilmu yang ada di dunia ini? Tapi mengapa sukar untuk kita merasakan dan mengakui hal ini? Jawapannya tidak lain tidak bukan kerana kita sendiri tidak memahami isi kandungan Al Quran apatah lagi mengkajinya. Bagaimana kita bisa mengkaji sesuatu yang tidak kita fahami? Dan bila tidak faham, lebih jauhlah untuk kita mengamalkannya dalam kehidupan. Sedangkan Al Quran mengandungi arahan-arahan dan panduan untuk menyelesaikan segala masalah dan urusan kehidupan.

Jika kita mengimbau kembali sirah Nabi Muhammad saw, kepesatan ilmu pengetahuan yang mencapai kemuncaknya pada zaman Abassiyah bermula sejak wahyu pertama diturunkan. Penguasaan para sahabat terhadap ilmu Al Quran membolehkan mereka membentuk suatu tamadun yang pernah menjadi ‘World Order’. Mengapa kini kita berada dalam keruntuhan sosial? Seolah-olah era jahiliyah kembali berkembang. Astaghfirullah.

Yang pastinya, penyelesaiannya telah lama kita miliki (iaitu Al Quran dan Hadis). Usaha para sahabat untuk membukukan Al Quran tidak sia-sia. Namun, ia akan menjadi sia-sia sekiranya kita tidak berusaha untuk memahaminya dan mengamalkannya.

Di zaman kepesatan ilmu ini, sepatutnya kita semua berlumba-lumba untuk memahami Al Quran. Dan menjadikannya ‘dusturuna’ (perlembagaan kita). Terdapat banyak cara untuk menjadi generasi yang celik Al Quran inshaAllah.

Antaranya adalah dengan mentadabbur ayat-ayat Al Quran setiap kali membacanya. Tadabbur Al Quran itu akan lebih berkesan sekiranya kita memahami sebab-sebab nuzul ayat itu, dan menghayati pemilihan bahasa yang Allah gunakan dalam ayatNya. Juga, apabila membacanya, lebih baik sekiranya kita dapat membacanya dengan betul (makhraj huruf, dan hukum tajwidnya). Kerana Al Quran adalah sesuatu yang tidak dapat ditandingi kecantikan bahasanya. Ia bukanlah sekadar tulisan kuno atau buku-buku biasa, tetapi ia merupakan ayat-ayat Allah buat hamba-hamba yang disayangiNya. Jadi sewajarnya kita berdisiplin apabila membacanya sebagai tanda memuliakannya dan menghormatinya.

Di sini turut dikongsikan beberapa bahan bacaan berkaitan ilmu tajwid dan sebab nuzul ayat Al Quran inshaAllah…

–          http://xa.yimg.com/kq/groups/22708266/975875608/name/Pedoman_Daurah_Al-Quran.pdf

–          Buku: Stories of the Quran by Ibn Kathir

Muhasabah Pasca SCUK ‘11

http://ikramuke.org/v3/?p=577

Makna buat kehidupan

Tentunya orang yang belum merasainya tidak akan pernah mengetahui bagaimana rasanya. Nikmat berkumpul bersama dalam satu majlis. Nikmat mentadabbur ayat-ayat Allah dan mengingatkan satu sama lain tentang janji Allah yang memang pasti. Nikmat berukhuwah atas nama Islam dan dasarnya akidah tauhid. Nikmat bersama-sama di dalam suatu ikatan usrah.

Begitu besarnya makna usrah untuk diri saya. Setelah beberapa tahun di bumi UK, saya kini boleh katakan seminggu saya memang tidak akan lengkap jika tak berusrah. Bagaikan ada sesuatu yang ‘missing‘ jika tidak bersama akhawat tersayang di dalam majlis ini. Majlis yang bukan sekadar majlis ilmu, tapi pastinya lebih lagi daripada itu. Majlis yang begitu memberi makna ‘kehidupan’ buat diri yang selalu terlupa. Teringatpula  ayat Al Quran di 8:24..

Daripada murabbi-murabbi yang sabar melayan karenah kami, saya temui begitu banyak mutiara darpada mereka. Mereka orang-orang yang lebih lama dalam dakwah ini, yang lebih banyak makan garam, tetapi tidak pernah lokek untuk berkongsi segalanya dengan kami. Mereka mengajar saya betapa tarbiyah itu bukan sekadar teori, bukan sekadar ayat-ayat di mulut, tetapi juga sesuatu yang perlu diterjemahkan dengan amal. Mereka juga menjadi contoh terbaik membina keluarga Muslim dalam erti kata yang sebenar.

Mereka begitu meyakini bahawa dunia ini hanya akan terselamat dengan cahaya Islam sahaja. Maka pemuda-pemuda seperti kitalah perlu membina diri kita untuk mencapai tahap supaya kita mampu sama-sama beramal jamaie membawa Islam ke tempat yang sepatutnya. Mereka memberi saya keyakinan dan dorongan bahawa saya mampu melakukan perkara yang saya sendiri ragui saya mampu lakukannya. Mereka mempercayai potensi diri ini yang tak seberapa dan mendorong saya agar ia digunakan sepenuhnya untuk amal Islami.

Teringat kisah-kisah dahulu bila saban minggu, perjalanan menaiki tren untuk ke tempat usrah sudah menjadi perkara biasa. Malah menjadi perkara yang ditunggu-tunggu kerana dapat bertemu dengan akhawat-akhawat lain daripada lokaliti lain.

Tahun berganti tahun, begitu juga dengan ahli-ahli usrah. Ada ahli usrah yang bersama-sama dari dahulu sehinggalah kini. Ada ahli usrah yang dahulunya bersama kini telah kembali ke tanah air-ada yang sudah berkahwin, ada yang sudah bercahaya mata. Alhamdulillah 🙂

Selalu juga terfikir, bertuahnya diri ini kerana disapa dengan nikmat hidayah Allah ini. Juga nikmat hidup dalam biah solehah dan dipermudahkan untuk mendapat hidayah Allah dalam pelbagai bentuk. Nikmat yang paling hebat dan manis sekali pastinya apabila dapat berkenalan semula dengan Pencipta yang Maha Agung, mengenaliNya melalui ayat-ayat Al-Quran dan menginsafi betapa lemahnya diri ini.

Sedangkan di luar sana betapa ramai rakan seusia masih terkinja-kinja dengan hiburan yang melalaikan, masih sibuk mengejar harta dunia tanpa peduli makanan rohani, masih meraba dalam gelap mencari-cari makna hidup yang sebenar. Di luar sana, pemuda-pemuda bagaikan tiada arah tujuan hidup dan larut dalam nikmat duniawi yang begitu mengasyikkan. (Beradanya saya di Malaysia pada waktu ini mengiyakan fakta di atas.)

Di suatu sudut lain, saya sebenarnya berasa kasihan pada mereka kerana mungkin mereka hanyalah ‘mangsa keadaan’.

Saya juga agaknya begitu jika tidak ada hidayah yang menyapa. Saya juga agaknya begitu jika tiada kawan-kawan, akak-akak yang datang berkongsi tentang nikmat iman dan islam dengan saya suatu hari dahulu. Saya juga agaknya begitu jika tiada akhawat-akhawat yang tidak putus-putus mendoakan kesejahteraan bersama dan tsabatnya kita dalam jalan ini.

Namun tiada satu jaminan bahawa saya akan terus kekal di jalan ini, kerana hanya Allah yang memegang hati ini. Dan hanya padaNya lah saya meminta agar Dia terus memimpin saya ke jalan yang lurus.

“Barang siapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah, Dia akan membukakan dadanya untuk Islam. Dan barang siapa dikehendakiNya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit….” 6:125

Buat para duat,

Teruskan menyentuh hati-hati manusia, membantu mereka (dan diri kita) membuang segala noda hitam dalam hati supaya mudah hidayah Allah itu hinggap ke dalam hati. Kongsilah permata-permata tarbiyah berharga yang telah kita peroleh dan sangat sayangi ini dengan mereka di luar sana. Sebarkan bait-bait hikmah daripada Al Quran untuk dikongsi bersama rakan-rakan. Teruskan mengajak mereka untuk bersama kita dalam usaha fastabiqulkhairat ini.

Kerana sebenarnya, manusia seluruhnya sangat menanti-nantikan cahaya Islam, juga sangat-sangat menanti-nantikan kita. Kerana jauh di sudut hati, mereka juga ingin mengenal kembali Allah, dan mereka juga ingin mengenali Islam itu sendiri. Mereka juga ada impian yang sama dengan kita, iaitu untuk menggapai nikmatnya Syurga Jannatul Firdausi dan menatap wajah Allah yang Esa.

Moga Allah kekalkan kita dalam nikmat iman dan islam ini -walaupun ia berbunyi cliche, tetapi pengertiannya begitu besar bagi yang benar-benar memahami.

Marilah kita berusaha untuk kembali dekat padaNya, taat padaNya dan ikhlas melakukan segala-gala keranaNya.

Dan marilah kita mengajak kawan-kawan di luar sana untuk berada bersama dalam gerabak ini, jangan biar ada seorang yang tercicir, kerana walaupun payah dan sukar perjalanannya, namun syurga dan redha Allah yang menanti itu begitu besar ganjarannya.

 “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa..” 3:133

“Iaitu syurga ‘Adn yang telah dijanjikan oleh Tuhan yang Maha Pengasih kepada hamba-hambaNya sekalipun (syurga itu) tidak tampak. Sungguh, (janji Allah) itu pasti ditepati.” 19: 61

Wallahualam..

Bedah Buku: Fiqh Awlawiyat

Ingin berkongsi sedikit catatan tentang buku yang sedang dibaca , supaya boleh jadi rujukan diri sendiri di masa depan, juga untuk dikongsikan ilmu ini dengan orang lain.

p/s: Jom baca buku!

Bedah buku:

Fiqh Awlawiyat (Yusuf Al-Qardhawi)

Pendahuluan

Dalam kehidupan ada perkara yang lebih perlu diutamakan daripada yang lain. Malah dalam Al-Quran juga, Allah meletakkan darjat dan nilai yang berbeza untuk beberapa perkara yang berbeza.

Dengan  memahaminya, kita tidak akan mengecilkan perkara yang sebenarnya besar, dan tidak terlalu membesarkan perkara yang sebenarnya kecil/remeh.

Dalam Al-Quran banyak telah Allah berikan contohnya:

Apakah orang-orang yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan ibadah haji dan mengurus Masjid al-Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum Muslim yang zalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.”  (at-Taubah, 19-20)

Para sahabat juga sentiasa ingin mengetahui apakah amalan yang paling dicintai oleh Allah, paling tinggi darjatnya yang akan dapat membawa mereka mencapai redha dan syurga Allah. Jadi banyak yang kita dapati jawapan Rasulullah kepada pertanyaan-pertanyaan mereka dimulai dengan , “Amalan yang paling mulia ialah..” atau “Amalan yang paling dicintai Allah ialah..”

Contoh-contoh lain yang menunjukkan keutamaan sesuatu melebihi yang lain, (untuk rujukan boleh lihat buku ini):

“Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian; dengan kelebihan sebanyak dua puluh tujuh tingkatan.”

“Sesungguhnya keikutsertaan salah seorang dari kamu dalam jihad di jalan Allah adalah lebih baik daripada shalat yang dilakukan olehnya di rumahnya selama tujuh puluh tahun.”

Juga terdapat dosa-dosa yang sebahagiannya lebih dibenci daripada yang lain contohnya:

“Satu dirham barang riba yang dimakan oleh seseorang, dan dia mengetabui bahwa itu adalah riba, maka dosa itu lebih berat di sisi Allah SWT daripada tiga puluh enam kali zina.”

“Sesuatu yang paling jelek yang ada di dalam diri seseorang ialah sifat kikir yang amat berat, dan sifat pengecut.”

“Sejelek-jelek umatku ialah mereka yang paling banyak omongnya, bermulut besar, dan berlagak pandai; dan sebaik-baik umatku ialah mereka yang paling baik akhlaknya.”

“Manusia yang dianggap sebagai pencuri paling ulung ialah orang yang mencuri shalatnya, tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya; sedangkan manusia yang paling kikir ialah orang yang paling enggan untuk mengucapkan salam.”

Begitu juga dengan darjat manusia, sebahagian adalah lebih tinggi daripada yang lainnya. Apakah dia yang membezakan darjat manusia itu? Tentunya ketakwaan kepada Allah.

“…Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu…” (al-Hujurat: 13)

Juga orang yang berilmu itu juga lebih tinggi di sisi Allah daripada orang yang tidak berilmu. Jadi jom kita belajar banyak-banyak ilmu, kawan2!

“… Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?…” (az-Zumar: 9)

Orang yang berjihad di jalan Allah juga semestinya tidak sama dengan orang yang duduk dan tidak turut berperang..

“Tidaklah sama antara Mu’min yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar. (Yaitu) beberapa derajat daripada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah SWT Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (an-Nisa: 95-96)

Dan tentunya tidak sama mereka yang dicelikkan hatinya untuk menerima Islam, dengan yang buta hatinya untuk Islam.

“Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat. Dan tidak (pula) sama gelap gulita dengan cahaya. Dan tidak (pula) sama yang teduh dengan yang panas. Dan tidak (pula) sama antara orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati …” (Fathir: 19-22)

Sekian dulu.. wassalam.