Bedah Buku: Fiqh Awlawiyat

Ingin berkongsi sedikit catatan tentang buku yang sedang dibaca , supaya boleh jadi rujukan diri sendiri di masa depan, juga untuk dikongsikan ilmu ini dengan orang lain.

p/s: Jom baca buku!

Bedah buku:

Fiqh Awlawiyat (Yusuf Al-Qardhawi)

Pendahuluan

Dalam kehidupan ada perkara yang lebih perlu diutamakan daripada yang lain. Malah dalam Al-Quran juga, Allah meletakkan darjat dan nilai yang berbeza untuk beberapa perkara yang berbeza.

Dengan  memahaminya, kita tidak akan mengecilkan perkara yang sebenarnya besar, dan tidak terlalu membesarkan perkara yang sebenarnya kecil/remeh.

Dalam Al-Quran banyak telah Allah berikan contohnya:

Apakah orang-orang yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan ibadah haji dan mengurus Masjid al-Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum Muslim yang zalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.”  (at-Taubah, 19-20)

Para sahabat juga sentiasa ingin mengetahui apakah amalan yang paling dicintai oleh Allah, paling tinggi darjatnya yang akan dapat membawa mereka mencapai redha dan syurga Allah. Jadi banyak yang kita dapati jawapan Rasulullah kepada pertanyaan-pertanyaan mereka dimulai dengan , “Amalan yang paling mulia ialah..” atau “Amalan yang paling dicintai Allah ialah..”

Contoh-contoh lain yang menunjukkan keutamaan sesuatu melebihi yang lain, (untuk rujukan boleh lihat buku ini):

“Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian; dengan kelebihan sebanyak dua puluh tujuh tingkatan.”

“Sesungguhnya keikutsertaan salah seorang dari kamu dalam jihad di jalan Allah adalah lebih baik daripada shalat yang dilakukan olehnya di rumahnya selama tujuh puluh tahun.”

Juga terdapat dosa-dosa yang sebahagiannya lebih dibenci daripada yang lain contohnya:

“Satu dirham barang riba yang dimakan oleh seseorang, dan dia mengetabui bahwa itu adalah riba, maka dosa itu lebih berat di sisi Allah SWT daripada tiga puluh enam kali zina.”

“Sesuatu yang paling jelek yang ada di dalam diri seseorang ialah sifat kikir yang amat berat, dan sifat pengecut.”

“Sejelek-jelek umatku ialah mereka yang paling banyak omongnya, bermulut besar, dan berlagak pandai; dan sebaik-baik umatku ialah mereka yang paling baik akhlaknya.”

“Manusia yang dianggap sebagai pencuri paling ulung ialah orang yang mencuri shalatnya, tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya; sedangkan manusia yang paling kikir ialah orang yang paling enggan untuk mengucapkan salam.”

Begitu juga dengan darjat manusia, sebahagian adalah lebih tinggi daripada yang lainnya. Apakah dia yang membezakan darjat manusia itu? Tentunya ketakwaan kepada Allah.

“…Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu…” (al-Hujurat: 13)

Juga orang yang berilmu itu juga lebih tinggi di sisi Allah daripada orang yang tidak berilmu. Jadi jom kita belajar banyak-banyak ilmu, kawan2!

“… Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?…” (az-Zumar: 9)

Orang yang berjihad di jalan Allah juga semestinya tidak sama dengan orang yang duduk dan tidak turut berperang..

“Tidaklah sama antara Mu’min yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar. (Yaitu) beberapa derajat daripada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah SWT Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (an-Nisa: 95-96)

Dan tentunya tidak sama mereka yang dicelikkan hatinya untuk menerima Islam, dengan yang buta hatinya untuk Islam.

“Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat. Dan tidak (pula) sama gelap gulita dengan cahaya. Dan tidak (pula) sama yang teduh dengan yang panas. Dan tidak (pula) sama antara orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati …” (Fathir: 19-22)

Sekian dulu.. wassalam.

 

 

3 thoughts on “Bedah Buku: Fiqh Awlawiyat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s